RESUME KEDUDUKAN FONOLOGI

 RESUME PERKULIAHAN


NAMA                    : SOVIA AZ-ZAHRA

NIM                        : 1252120026

JURUSAN              : TADRIS BAHASA INDONESIA

MATA KULIAH     : FONOLOGI BAHASA INDONESIA

TOPIK                    : KEDUDUKAN FONOLOGI DALAM SISTEM BAHASA

HARI, TANGGAL : RABU, 11 MARET, JAM: 08.00, RUANG: TATAP MAYA

DOSEN                  : Dr. Ahmad Syaeful Rahman, M.Pd., CPM, CPArb. & Dr. Diki Mutaqin, S.Pd., M.Pd. 

EMAIL DOSEN    : ahmadsr@uinsgd.ac.id


1. RINGKASAN MATERI (SUMMARY)

Jika kita telusuri asal-usulnya, kata fonologi itu berasal dari bahasa Yunani yaitu phone (bunyi) dan logos (ilmu). Jadi fonnologi bisa diartikan sebagai ilmu yang membahas mengenai bunyi-bunyi dalam bahasa. 

Dalam dunia linguistik, fonologi memiliki cakupan yang sangat luas, bukan sekedar " ilmu bunyi". Fonologi membahas mengenai bagaimana bunyi itu terbentuk, bagaimana cara mengucapkannya, bagaimana bunyi diterima oleh pendengar, sampai pada pertanyaan yang lebih dalam seperti apakah bunyi dapat membedakan makna sebuah kata?. 

Jadi fonologi bukan sekedar ilmu yang membahas mengenai bunyi, tetapi juga ilmu yang memahami bagaimana dan mengapa bunyi-bunyi itu berperan dalam bahasa.

Fonologi mempunyai dua cabang utama, yaitu fonetik dan fonemik. Keduanya sama-sama membahas mengenai bunyi, tetapi dari sudut yang berbeda. 

a. Fonetik lebih fokus pada bunyi sebagai fenomena fisik, tanpa peduli apakah bunyi itu bermakna atau tidak, dan terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

-Artikulatoris berfokus pada bagaimana lidah, bibir, dan pita suara bekerja menghasilkan bunyi. Ini yang paling sering dipakai dalam linguistik. 

-Akustik berfokus pada bunyi dilihat sebagai gelombang suara, lebih dekat ke dunia fisika. 

-Auditoris berfokus pada bagaimana telinga menangkap dan memproses bunyi, bersinggungan dengan ilmu kedokteran.

b. Fonemik mengkaji bunyi bukan dari sifat fisiknya, tetapi dari fungsinya, seperti: apakah bunyi itu bisa mengubah makna kata?. Satuan terkecilnya disebut fonem. Contohnya kata paru dan baru, hanya berbeda satu bunyi dibagian awal, tetapi maknanya sudah berbeda jauh. Begitupun tahan dan dahan, atau kaca dan kece.

Konsep inilah yang disebut "pasangan minimal", yaitu dua kata yang hampir identik tetapi berbeda satu fonem. Pasangan minimal digunakan untuk membuktikan bahwa suatu bunyi benar-benar punya status sebagai fonem dalam bahasa tersebut. 

Dari empat bidang kajian linguistik, fonologi menempati posisi paling dasar. Bukan sekadar urutan, tapi memang begitulah kenyataannya: bidang-bidang lain tidak bisa berdiri tanpa fonologi sebagai pondasinya. Halliday menyebutnya sebagai jembatan antara bunyi dan makna. Fonologi menghubungkan dunia fisik (suara yang keluar dari mulut) dengan sistem bahasa yang lebih kompleks seperti kata, kalimat, dan makna. Sederhananya tingkatannya seperti ini:

a. Fonologi (dasar) berfokus pada fonem atau bunyi,

b. Morfologi berfokus pada pembentukan kata,

c. Sintaksis berfokus pada struktur kalimat, 

d. Semantik berfokus pada makna.

Morfologi membutuhkan fonologi karena setiap pembentukan kata selalu melibatkan perubahan bunyi. Sintaksis membutuhkan fonologi karena intonasi dan jeda menentukan struktur kalimat. Semantik pun membutuhkan fonologi karena makna sebuah kata berawal dari identitas bunyinya.


2. ISU YANG BERKEMBANG DALAM DISKUSI

Pada saat diskusi,  ada pertanyaan dari rekan saya yaitu Azka, beliau bertanya mengenai bunyi bahasa atau pelafalan kata yang di ucapkan oleh teman tuli ketika sedang berbicara. Ternyata memang benar, teman tuli ketika melafalkan bunyi kata atau kalimat tentu memiliki perbedaan dengan kita, itu karena teman tuli tidak pernah mendengar model bunyi yang benar dan karena pendengarannya terganggu, mereka menjadi sulit untuk panjang pendeknya suara, keras lemahnya, tinggi rendahnya dan intonasi kalimatnya.

Lalu berdiskusi mengenai "Proses Silabifikasi", dari situ saya menyadari bahwa memenggal kata berimbuhan ternyata tidak sesederhana itu. Kata melompat misalnya, secara fonologis dipotong menjadi me-lom-pat mengikuti pola silabel. Namun secara morfologis, ada argumen bahwa me- sebagai morfem tersendiri seharusnya diperlakukan berbeda. Di sinilah fonologi dan morfologi saling tarik-menarik dalam menentukan pemenggalan yang tepat.

Selain yang saya lampirkan diatas, masih banyak topik yang berkembang, salah satunya mengenai "Ambiguitas Suprasegmental". Contohnya kalimat "Dosen baru datang" adalah contoh menarik bagaimana satu kalimat bisa punya makna berbeda.  Jeda dan tekanan bukan sekadar gaya bicara, tetapi penentu makna yang sesungguhnya


 3. SECOND / OTHER OPINION

Fonologi atau fonemik (phonoloy/phonemics) merupakan cabang ilmu linguistik yang meneliti bunyi bahasa dengan melihat fungsi bunyi sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa (Marsono, 2019, hlm.1).

Menurut Abdul Chaer (2003), fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.  


4. REFLEKSI

a. Mengenai Fonetik = Fonetis, Fonemik = Fonemis

Saat saya mendengar keempat istilah ini, saya sempat berfikir ini memiliki arti yang berbeda. Ternyata tidak. Fonetik dan fonetis itu satu hal yang sama, begitu juga fonemik dan fonemis. Bedanya cuma soal kelas kata ,  yang berakhiran -ik itu kata benda, yang berakhiran -is itu kata sifat. Sesederhana itu. 

b. Fonologi Bukan Soal Huruf

Inilah yang sempat membuat saya salah sangka saat awal. Fonologi itu bukan tentang huruf tetapi tentang bunyi. Jika kita amati huruf e di kata enak dan enek. Tulisannya sama persis, tapi ketika diucapkan bunyinya beda. Nah, selisih bunyi seperti itulah yang sebenarnya menjadi urusan fonologi. Bukan apa yang terlihat di kertas, tetapi apa yang terdengar di telinga.

c. Diam Merupakan Bagian dari Bahasa

Ini yang paling saya rasakan langsung. Suatu hari teman saya berbicara, "mau baso." Saya langsung jawab mau, sudah siap-siap keluar. Ternyata dia itu sedang mengungkapkan keinginannya sendiri yang sedang menginginkan baso, bukan mengajak  saya untuk makan baso. Jedanya beda, maknanya jadi ikut berbeda total. Dalam fonologi, diam atau jeda bukan ruang kosong. Ia mempunyai peran, dan salah menaruhnya dapat menimbulkan kesalahpahaman.

d. Sistem Bunyi Setiap Bahasa Itu Berbeda

Saya sering menonton FTV jadul, dan ada satu hal yang tanpa sadar saya perhatikan, yaitu logat orang Jakarta di FTV itu beda sekali dengan logat daerah lain, padahal sama-sama memakai bahasa Indonesia. Itu bukan hanya soal gaya bicara. Setiap bahasa dan dialek punya sistem bunyinya sendiri. Bunyi /v/ misalnya, sebenarnya bukan bunyi asli bahasa Indonesia. ia masuk melewati kata-kata serapan. Jadi wajar apabila ada bunyi dari bahasa lain yang terasa asing di mulut kita, karena memang sistem bunyinya berbeda dari awal.


 5. LAMPIRKAN DAFTAR BACAAN /DAFTAR PUSTAKA

Chaer, A. (2003). Linguistik umum. Rineka Cipta.

Marsono. (2019). Fonetik dan fonologi. Gadjah Mada University Press.

Gani, S., & Arsyad, B. (2018). Kajian teoritis struktur internal bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik). 'A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 7(1), 1—20.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANGKUMAN PEMBAHASAN SUPRASEGENTAL

Rangkuman FONETIK FONASI